الاثنين، 20 مايو 2013


JALAN BANGSAT !!!
Hujan sore masih tersisa menyirami tanah merah bebatuan. Baris atap genting coklat kehitaman berlumut di rumah kecil itu. Di anatara sudut perkampungan ada rumah besar bercat kuning. Sinar lampunya lebih terang dari rumah lain di kampung itu. Di dalam rumah besar itu terdapat  tiga sosok manusia. Duduk sambil berbincang di ruang yang terang dan dilengkapi dengan dua gelas kopi hangat yang jadi sajian mereka.
Mereka adalah pak Muhidin beserta istrinya bu Sumi dan putra semata wayangnya Asep. Pak Muhidin ini berharap agar Asep ini menjadi seorang perwira polisi. Karena pak Muhi yakin dengan menjadi polisi masa depannya akan menjanjikan. Terdengar samar pak Muhidin membuka percakapannya dengan anak beserta istrinya. “ Gimana sep ...? kamu sudah benar-benar ingin jadi polisi? “ siap donk pak “ sahut Asep. “ tadi pagi Sep sudah mengajukan pendaftaran ke POLSEK pak “ tambah Asep. “Tapi pak, kalau hanya mengajukan saja tanpa orang dalam sich susah pakk!!!. Paling tida harus ada uang yang lumayan besar supaya urusannya lebih mudah”. Celetuk ibu Sumi sambil membawa sepiring singkong rebus dari dapurnya. ‘’ kalau masalah itu bisa diatur nanti dengan Om Hari.  Jawab pak Muhidin. Melalui jalan setapak yang sunyi itulah keluarga Asep akan berbuat curang demi mendapatkan sebuah pangkat untuk anaknya.
Esok , matahari pun baru muncul dari pertapaannya dan embun pagipun masih berayun di ujung daun. Deru suara motor pak kades dari kejauhan dengan seragam coklat muda, di belakangnya duduk seorang pemuda tinggi tegar menyelusuri jalan menuju tempat tinggal om Hari. Setelah mereka berbincang ternyata pak kades harus menyiapkan uang sebesar Rp. 150.000.000,- agar mempermudah langkah menjadi polisi. Pak kades pun sepakat dengan  om Hari. Asal Asep bisa jadi polisi. Pak kades rela menjual sawah , tanah dan kebunnya hanya demi anaknya.
Saat perjalanan pulang Asep mampir dulu ke rumah sahabatnya sejak kecil. Sudah 25 tahun mereka bersahabat dengan baik. Sahabatnya Mail juga akan mendaftarkan menjadi calon polisi. Mereka yakin akan lolos tes yang akan mereka hadapi nanati di kota kembang    ( Bandung). Asep tak berani cerita kepada Mail kalau orangtuanya teleh menyogok orang dalam agar ia lolos dan menjadi polisi.” Minggu depan kita akan bersaing Sep?  Apa kau siap” ? tentu saja aku siap Mail. Jawab Asep dengan gugup. Dalam pikirannya ia merasa tak
 enak karena telah  menikung temannya di belakang. “ Aku yakin dengan kemurnian kita ikut tes itu, Tuhan akan mempermudah jalan untuk kita bisa lolos”. Lanjut Mail.
Sudah Satu bulan ini tes menjadi calon polisi berlalu. Pengumuman belum ada kabar juga. Keluarga Muhidin dan Mail sangat resah menanti pengumuman itu. Sedangkan di luar sana masyarakat sudah meyakini bahwa sudah pasti orang yang melalui jalan setapak alias bermain di belakang atau menyogok akan lolos tes itu. Tapi kenyataaan berkata lain.               “ Alhamdulillah ya Allah hamba lolos” ucap Mail sambil bersujud. “ tidak... tidak aku gagal mail”. Teriak Asep yang telah jatuh terduduk di bawah lantai. “Tidak mungkin anakku gagal” bisik pak kades.
Syukuran pun diadakan oleh keluarga Mail dengan sederhana. Tapi  terbalik dengan keluarga Asep malah dilanda kekecewaan yang dasyat. Asep tak jadi polisi malah uang yang banyak itu melayang begitu saja. “ kau harus bertangung jawab atas semua ini hari, kau goblok sekali”!! ujar pak Muhidin dengan nada tinggi. “ maaf pak saya sudah berusaha, tapi kenyataannya seperti ini. Uang itupun tak dapat kembali. Jawab Hari dengan gugup. “Ini semua politik orang-orang dalam” , mungkin uang kita kalah dengan yang lain. Lanjut Hari. “ sudahlah pak...... sudah” !! ini semua kan keinginan kita. Kita harus terima apapun yang terjadi. Sahut  Asep dengan tenang. Keluarga besar itupun menyesal. Akhirnya Asep mencari pekerjaan yang memang ia bisa lakukan tanpa jalan-jalan yang menyesatkan seperti dulu. Ia pun latas mendapat pekerjaan. “ Tuhan.. Melalui jalan setapak yang sunyi itu kini membuatku sadar bahwa apa yang kita pastikan terjadi belum tentu terjadi dalam kenyataan” yang akhirnya malah akan membuat rugi diri sendiri. Ungkap Asep dalam hatinya.

الاثنين، 10 ديسمبر 2012

cerita hari ini

Tadinya aku hanya bisa membisu
Hanya bisa gunakan indraku
yaitu mataku dan telingaku
tanganku kaku
Aku dan terdiam
Terdiam terus menerus
Tapi aku tak bodoh
Aku mencoba
Dan mencoba
Bersamanya  akhirnya aku bisa
BUAT BLOG INI