JALAN BANGSAT
!!!
Hujan
sore masih tersisa menyirami tanah merah bebatuan. Baris atap genting coklat
kehitaman berlumut di rumah kecil itu. Di anatara sudut perkampungan ada rumah
besar bercat kuning. Sinar lampunya lebih terang dari rumah lain di kampung
itu. Di dalam rumah besar itu terdapat
tiga sosok manusia. Duduk sambil berbincang di ruang yang terang dan
dilengkapi dengan dua gelas kopi hangat yang jadi sajian mereka.
Mereka
adalah pak Muhidin beserta istrinya bu Sumi dan putra semata wayangnya Asep.
Pak Muhidin ini berharap agar Asep ini menjadi seorang perwira polisi. Karena
pak Muhi yakin dengan menjadi polisi masa depannya akan menjanjikan. Terdengar
samar pak Muhidin membuka percakapannya dengan anak beserta istrinya. “ Gimana
sep ...? kamu sudah benar-benar ingin jadi polisi? “ siap donk pak “ sahut
Asep. “ tadi pagi Sep sudah mengajukan pendaftaran ke POLSEK pak “ tambah Asep.
“Tapi pak, kalau hanya mengajukan saja tanpa orang dalam sich susah pakk!!!.
Paling tida harus ada uang yang lumayan besar supaya urusannya lebih mudah”.
Celetuk ibu Sumi sambil membawa sepiring singkong rebus dari dapurnya. ‘’ kalau
masalah itu bisa diatur nanti dengan Om Hari.
Jawab pak Muhidin. Melalui jalan setapak yang sunyi itulah keluarga Asep
akan berbuat curang demi mendapatkan sebuah pangkat untuk anaknya.
Esok
, matahari pun baru muncul dari pertapaannya dan embun pagipun masih berayun di
ujung daun. Deru suara motor pak kades dari kejauhan dengan seragam coklat
muda, di belakangnya duduk seorang pemuda tinggi tegar menyelusuri jalan menuju
tempat tinggal om Hari. Setelah mereka berbincang ternyata pak kades harus
menyiapkan uang sebesar Rp. 150.000.000,- agar mempermudah langkah menjadi
polisi. Pak kades pun sepakat dengan om
Hari. Asal Asep bisa jadi polisi. Pak kades rela menjual sawah , tanah dan
kebunnya hanya demi anaknya.
Saat
perjalanan pulang Asep mampir dulu ke rumah sahabatnya sejak kecil. Sudah 25
tahun mereka bersahabat dengan baik. Sahabatnya Mail juga akan mendaftarkan
menjadi calon polisi. Mereka yakin akan lolos tes yang akan mereka hadapi
nanati di kota kembang ( Bandung).
Asep tak berani cerita kepada Mail kalau orangtuanya teleh menyogok orang dalam
agar ia lolos dan menjadi polisi.” Minggu depan kita akan bersaing Sep? Apa kau siap” ? tentu saja aku siap Mail.
Jawab Asep dengan gugup. Dalam pikirannya ia merasa tak
enak karena telah menikung temannya di belakang. “ Aku yakin
dengan kemurnian kita ikut tes itu, Tuhan akan mempermudah jalan untuk kita
bisa lolos”. Lanjut Mail.
Sudah
Satu bulan ini tes menjadi calon polisi berlalu. Pengumuman belum ada kabar
juga. Keluarga Muhidin dan Mail sangat resah menanti pengumuman itu. Sedangkan
di luar sana masyarakat sudah meyakini bahwa sudah pasti orang yang melalui
jalan setapak alias bermain di belakang atau menyogok akan lolos tes itu. Tapi
kenyataaan berkata lain. “
Alhamdulillah ya Allah hamba lolos” ucap Mail sambil bersujud. “ tidak... tidak
aku gagal mail”. Teriak Asep yang telah jatuh terduduk di bawah lantai. “Tidak
mungkin anakku gagal” bisik pak kades.
Syukuran
pun diadakan oleh keluarga Mail dengan sederhana. Tapi terbalik dengan keluarga Asep malah dilanda
kekecewaan yang dasyat. Asep tak jadi polisi malah uang yang banyak itu
melayang begitu saja. “ kau harus bertangung jawab atas semua ini hari, kau
goblok sekali”!! ujar pak Muhidin dengan nada tinggi. “ maaf pak saya sudah
berusaha, tapi kenyataannya seperti ini. Uang itupun tak dapat kembali. Jawab
Hari dengan gugup. “Ini semua politik orang-orang dalam” , mungkin uang kita
kalah dengan yang lain. Lanjut Hari. “ sudahlah pak...... sudah” !! ini semua
kan keinginan kita. Kita harus terima apapun yang terjadi. Sahut Asep dengan tenang. Keluarga besar itupun
menyesal. Akhirnya Asep mencari pekerjaan yang memang ia bisa lakukan tanpa
jalan-jalan yang menyesatkan seperti dulu. Ia pun latas mendapat pekerjaan. “
Tuhan.. Melalui jalan setapak yang sunyi itu kini membuatku sadar bahwa apa
yang kita pastikan terjadi belum tentu terjadi dalam kenyataan” yang akhirnya
malah akan membuat rugi diri sendiri. Ungkap Asep dalam hatinya.